Biografi Ibnu Sina

Biografi Ibnu Sina - Anda Berada di Zona Cingire, Disni anda akan menemukan info - info unik yang belum banyak di ketahui oleh dunia sepertinya Biografi Ibnu Sina, yang akan anda baca di bawah ini.Jadi jangan ngomong cingire kalau belum berkunjung dan membaca berita update dari kami. Berikut Biografi Ibnu Sina Selengkapnya.

Label :
Judul Artikel: Biografi Ibnu Sina

lihat juga


Biografi Ibnu Sina

Ibnu Sina merupakan salah satu tokoh Islam yang disegani dunia. Ia sangat terkenal pada zamannya pada bidang kedokteran. Tidak hanya saat masa kehidupannya, karena hingga kini, sumbangsihnya dibidang kedokteran masih terus digunakan. Tidak heran, jika ia mendapat julukan Bapak Kedokteran Modern.

Ibnu Sina bernama asli Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina. Di dunia barat ia dikenal dengan nama Avicenna. Kecintaanya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya sudah khatam ilmu kedokteran, hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya pada usian 18 tahun. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Biografi Ibnu Sina
Ia lahir pada tahun 370 Hijriyah atau pada 980 masehi di di Afsyahnah daerah dekat Bukhara(Persia) wilayahnya sekarang adalah Uzbekistan. Kecerdasannya memang sudah terlihat sejak Ia masih kecil. Kecerdasan ini semakin terasah karena sejak kecil sang ayah sudah membiasakannya melakukan kajian tentang ilmiah.

Kecerdasannya yang menonjol dibanding teman-temannya, membuat sang guru menyarankan orang tuanya agar Ibnu Sina fokus menimba ilmu saja dan tidak terjun dalam dunia kerja jika sudah lulus sekolah. Sang guru berharap agar Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan saja.

Saran tersebut ternyata disetujui oleh orang tuanya. Ibnu Sina pun hanya berfokus dengan bidang keilmuan saja. Ternyata Ia dengan cepat bisa menguasai banyak ilmu. Saat itu, meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Kejeniusannya ternyata membuatnya terkenal hingga terdengar oleh pihak kerajaan.

Hidup Ibnu Sina kian berubah, ketika suatu saat Raja yang kala itu memerintah yakni Raja Bukhara Nuh bin Mansur jatuh sakit meminta Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya. Ternyata tinggal di kerajaan membuat Ibnu Sina dengan leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang sangat besar.

Ia mengatak bahwa semua buku yang diinginkan ada di perpustakaan tersebut, bahkan buku-buku yang kebanyakan orang tidak mengetahui namanya, dan Ia sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi.

Mengetahui akan gudang ilmu tersebut, Ibnu Sina pun memanfaatkan dengan baik dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya. Sesuatu yang menakjubkan adalah ketika usianya 18 tahun, Ia sudah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.

Lama tinggal di istana, Ibnu Sina pun turut sibuk dalam kancah perpolitikan di kerajaan. Namun semua aktivitas perpolitikan tersebut tidak mengurangi kegiatan keilmuannya. Ia  bahkan menggelar safari panjang ke berbagai penjuru. Bahkan saat sempat dipenjarakan penahanannya selama beberapa bulan di Tajul Muk, penguasa Hamedan, Ia tetap saja bisa melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.

Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.

Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”

Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.

Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.

Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.

Ibnu Sina tutup usia saat usianya 58 tahun dan tepat pada tahun 428 hijriyah. Namun kepergiannya tak menghapus khazanah keilmuan yang ia ciptakan dan ditinggalkan untuk umat manusia. Nama besarnya tetap hidup hingga saat ini , karena Ia adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Demikian artikel biografi Ibnu Sina-Bapak Kedokteran Modern. Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah pengetahuan anda. Dapatkan kisah inspiratif dari berbagai tokoh di dunia hanya di Infoyunik.com.
Blogger
Disqus

No comments